Aqiqah

Ketentuan Aqiqah dalam Islam dari Kelahiran hingga Pembagian Daging

Hosen · 27 September 2026 · 6 dilihat

Ketentuan Aqiqah dalam Islam dari Kelahiran hingga Pembagian Daging

Kelahiran seorang anak merupakan nikmat besar yang patut disyukuri oleh setiap orang tua. Salah satu bentuk rasa syukur yang dianjurkan dalam Islam adalah melaksanakan aqiqah. Namun, aqiqah bukan sekadar menyembelih kambing dan membagikan makanan. Ada sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan agar pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Memahami ketentuan aqiqah dalam Islam penting bagi orang tua agar ibadah yang dilakukan benar-benar memenuhi prinsip aqiqah sesuai syariat Islam, mulai dari kelahiran anak, waktu pelaksanaan, pemilihan hewan, penyembelihan, hingga pembagian daging.

Apa Itu Aqiqah dalam Islam?

Aqiqah adalah penyembelihan hewan ternak sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Aqiqah memiliki dasar dari hadis Rasulullah SAW dan termasuk ibadah yang sangat dianjurkan bagi orang tua yang memiliki kemampuan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa aqiqah berkaitan dengan beberapa amalan setelah kelahiran anak. Karena itu, pelaksanaannya sebaiknya mengikuti aqiqah sesuai tuntunan Islam, bukan hanya mengikuti kebiasaan atau tradisi yang berkembang di masyarakat.

Hukum Aqiqah bagi Orang Tua

Mayoritas ulama memandang aqiqah sebagai sunnah muakkadah bagi orang tua yang mampu. Artinya, aqiqah sangat dianjurkan, tetapi tidak menjadi kewajiban bagi orang yang tidak memiliki kemampuan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih untuk anaknya, maka hendaklah ia melakukannya.”

(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Ungkapan “ingin” dalam hadis tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan para ulama dalam menjelaskan hukum sunnah aqiqah.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu memaksakan diri secara finansial. Aqiqah sesuai syariah justru harus dilaksanakan dengan memperhatikan kemampuan sehingga tidak menimbulkan beban yang berlebihan.

Ketentuan Aqiqah Sejak Anak Lahir

Setelah anak lahir, orang tua dapat mempersiapkan pelaksanaan aqiqah sesuai kemampuan. Dalam hadis, Rasulullah SAW menyebutkan beberapa amalan yang berkaitan dengan hari ketujuh, yaitu penyembelihan aqiqah, mencukur rambut, dan memberikan nama.

Rasulullah SAW bersabda:

“Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”

(HR. Abu Dawud)

Hadis ini menjadi dasar bahwa hari ketujuh memiliki kedudukan khusus dalam pelaksanaan aqiqah.

Namun, apabila orang tua belum mampu melaksanakan aqiqah pada waktu tersebut, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu setelahnya. Sebagian ulama membahas pelaksanaan pada hari ke-14 atau ke-21, sedangkan sebagian lainnya memberikan kelonggaran selama orang tua mampu melaksanakannya.

Jumlah Kambing untuk Aqiqah

Salah satu ketentuan yang paling sering ditanyakan adalah jumlah hewan aqiqah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Berdasarkan hadis tersebut, ketentuan yang masyhur adalah dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.

Jumlah tersebut merupakan bagian penting dalam tata cara aqiqah sesuai sunnah. Namun, apabila seseorang memiliki keterbatasan kemampuan, pembahasan fikih mengenai jumlah dan kemampuan tetap perlu dilihat berdasarkan pendapat ulama yang diikuti.

Memilih Hewan Aqiqah yang Halal dan Layak

Hewan aqiqah harus merupakan hewan yang halal dan layak untuk disembelih. Kambing atau domba yang digunakan sebaiknya sehat dan tidak memiliki cacat yang membuatnya tidak layak sebagai hewan sembelihan.

Prinsip memilih hewan yang baik sejalan dengan ajaran Islam agar ibadah dilakukan dengan sesuatu yang halal dan baik.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu.”

(QS. Al-Baqarah: 267)

Walaupun ayat tersebut berbicara mengenai infak, prinsip memilih sesuatu yang baik dan halal merupakan nilai penting dalam ibadah seorang Muslim.

Karena itu, aqiqah halal tidak hanya dilihat dari jenis hewannya, tetapi juga perlu memperhatikan proses penyembelihan dan pengolahannya.

Proses Penyembelihan Aqiqah

Penyembelihan menjadi bagian utama dalam pelaksanaan aqiqah. Hewan harus disembelih dengan menyebut nama Allah dan menggunakan tata cara yang sesuai ketentuan syariat.

Allah SWT berfirman:

“Maka makanlah binatang-binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.”

(QS. Al-An’am: 118)

Karena itu, apabila aqiqah diserahkan kepada pihak lain, orang tua perlu memastikan bahwa proses penyembelihannya benar-benar diperhatikan.

Memilih penyedia aqiqah terpercaya dapat membantu keluarga memastikan proses dari pemilihan hewan hingga pengolahan dilakukan secara lebih terkontrol.

Mencukur Rambut dan Memberikan Nama

Selain penyembelihan, mencukur rambut bayi dan memberikan nama merupakan amalan yang disebutkan dalam hadis tentang aqiqah.

Mencukur rambut bayi pada hari ketujuh merupakan amalan yang dikenal dalam tuntunan aqiqah. Sebagian ulama juga menganjurkan bersedekah dengan perak seberat rambut bayi yang dicukur berdasarkan riwayat yang membahas praktik Fatimah radhiyallahu 'anha terhadap Hasan dan Husain.

Dalam memberikan nama, orang tua hendaknya memilih nama yang baik dan memiliki makna yang baik. Nama merupakan doa dan identitas yang akan melekat pada seorang anak.

Bagaimana Pembagian Daging Aqiqah?

Pembagian daging aqiqah merupakan bagian yang banyak ditanyakan masyarakat. Tidak ada satu ketentuan yang mewajibkan seluruh daging harus diberikan dengan pola tertentu sebagaimana pembagian zakat.

Dalam praktiknya, daging aqiqah dapat dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan.

Hal ini juga membuat aqiqah berbeda dengan ibadah kurban dalam beberapa aspek tata cara pembagiannya.

Daging aqiqah yang sudah dimasak dapat diberikan dalam bentuk hidangan atau nasi box sehingga lebih mudah dibagikan. Yang terpenting adalah makanan tersebut halal, baik, dan diberikan sebagai bentuk syukur serta berbagi kebahagiaan atas kelahiran anak.

Aqiqah Tidak Harus Mewah

Aqiqah merupakan ibadah, bukan perlombaan dalam mengadakan acara besar. Karena itu, orang tua tidak perlu merasa harus menyediakan pesta mewah atau mengundang banyak orang.

Aqiqah Islami dapat dilaksanakan secara sederhana selama memenuhi ketentuan syariat dan dilakukan sesuai kemampuan.

Allah SWT berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya.

Dengan demikian, inti dari aqiqah sesuai sunnah Nabi adalah menjalankan ibadah berdasarkan tuntunan yang ada, bukan mengejar kemewahan acara.

Memilih Jasa Aqiqah yang Sesuai Syariah

Saat ini banyak keluarga memilih menggunakan jasa aqiqah karena lebih praktis. Dengan menggunakan jasa aqiqah syariah, keluarga tidak perlu mengurus sendiri pembelian kambing, penyembelihan, memasak, hingga pengemasan makanan.

Namun, memilih penyedia jasa tetap perlu dilakukan dengan hati-hati. Pastikan mereka menjelaskan jenis hewan, kondisi hewan, proses penyembelihan, pengolahan makanan, serta jumlah porsi yang diperoleh.

Penyedia jasa aqiqah Islami juga sebaiknya memiliki komitmen terhadap kehalalan bahan dan proses pengolahan makanan.

Bagi keluarga yang membutuhkan layanan praktis, pilihlah jasa aqiqah amanah yang transparan dan dapat dipercaya. Dengan begitu, pelaksanaan ibadah tetap dapat dilakukan dengan tenang.

Aqiqah SyariaID sebagai Solusi Praktis

SyariaID menyediakan layanan aqiqah untuk membantu keluarga melaksanakan aqiqah dengan lebih praktis. Layanan ini ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan aqiqah terpercaya sesuai syariah, dengan pilihan paket yang dapat disesuaikan kebutuhan keluarga.

Menggunakan penyedia layanan dapat menjadi solusi bagi orang tua yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengurus seluruh proses aqiqah sendiri.

Sebelum memilih layanan, keluarga tetap perlu memastikan ketentuan hewan, proses penyembelihan, pengolahan, serta distribusi makanan telah dijelaskan dengan baik.

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah terpercaya dan amanah, layanan aqiqah SyariaID dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu mempersiapkan kebutuhan aqiqah secara lebih mudah dan praktis.

Kesimpulan

Ketentuan aqiqah dalam Islam mencakup beberapa tahapan, mulai dari kelahiran anak, waktu pelaksanaan, jumlah hewan, pemilihan kambing atau domba, proses penyembelihan, mencukur rambut, memberikan nama, hingga pengolahan dan pembagian daging.

Melaksanakan aqiqah sesuai sunnah berarti berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW berdasarkan hadis-hadis yang menjadi landasannya. Aqiqah juga tidak harus dilakukan secara mewah karena yang paling utama adalah ketepatan pelaksanaan ibadah dan kemampuan orang tua.

Bagi keluarga yang ingin lebih praktis, menggunakan jasa aqiqah syariah dapat menjadi alternatif. Pastikan memilih penyedia aqiqah terpercaya yang memperhatikan kehalalan hewan, proses penyembelihan, pengolahan makanan, serta amanah dalam menjalankan pesanan.

FAQ Ketentuan Aqiqah dalam Islam

1. Apa ketentuan utama aqiqah dalam Islam?

Ketentuan utama aqiqah meliputi penyembelihan kambing atau domba, jumlah hewan sesuai jenis kelamin anak berdasarkan hadis, waktu pelaksanaan yang dianjurkan, serta memastikan proses penyembelihan dilakukan sesuai syariat.

2. Berapa kambing untuk aqiqah anak laki-laki?

Hadis Rasulullah SAW menyebutkan dua ekor kambing yang sepadan untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.

3. Kapan aqiqah sebaiknya dilakukan?

Waktu yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran. Mengenai pelaksanaan setelah hari ketujuh terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

4. Apakah daging aqiqah harus dibagikan dalam keadaan matang?

Tidak terdapat ketentuan umum yang mewajibkan pola pembagian tertentu seperti zakat. Dalam praktik yang dikenal, daging aqiqah dimasak kemudian dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan orang yang membutuhkan.

5. Apa ciri aqiqah sesuai syariat Islam?

Aqiqah sesuai syariat Islam memperhatikan hewan yang halal dan layak, proses penyembelihan yang sesuai syariat, jumlah hewan berdasarkan tuntunan hadis, serta pelaksanaan yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

6. Bolehkah menggunakan jasa aqiqah?

Boleh menggunakan jasa pihak lain untuk membantu menyediakan hewan, menyembelih, memasak, dan mendistribusikan makanan, selama prosesnya dilakukan sesuai ketentuan syariat.

7. Bagaimana memilih penyedia aqiqah terpercaya?

Pilih penyedia aqiqah terpercaya yang transparan mengenai sumber hewan, proses penyembelihan, pengolahan makanan, jumlah porsi, harga paket, dan sistem pengiriman. Pastikan pula mereka memiliki komitmen terhadap prinsip halal dan amanah.

 

Bagikan:FacebookX / TwitterWhatsApp

Artikel Terkait