Istri Sering Marah kepada Suami Menurut Islam: Penyebab, Dalil Al-Qur'an, Hadis, dan Cara Mengatasinya
Redaksi Syaria · 29 Juli 2026 · 6 dilihat

Rumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pendapat, tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, hingga kesalahpahaman dalam komunikasi dapat memicu pertengkaran antara suami dan istri. Salah satu kondisi yang sering menjadi pertanyaan adalah ketika istri sering marah kepada suami. Apakah hal tersebut dibenarkan dalam Islam? Bagaimana cara menyikapinya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah?
Islam memandang bahwa emosi adalah fitrah manusia. Marah bukanlah dosa selama masih dapat dikendalikan dan tidak mendorong seseorang melakukan kezaliman. Namun, apabila kemarahan menjadi kebiasaan hingga melukai pasangan, merusak keharmonisan rumah tangga, atau mengabaikan hak dan kewajiban masing-masing, maka hal tersebut perlu segera diperbaiki.
Bagi pasangan yang mengalami konflik berkepanjangan, mencari bimbingan melalui konsultasi ustadz online, konsultasi agama Islam online, atau konsultasi Islam online dapat menjadi langkah yang baik untuk memperoleh solusi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Mengapa Istri Sering Marah kepada Suami?
Dalam banyak kasus, kemarahan bukanlah masalah utama, melainkan gejala dari persoalan yang lebih dalam. Seorang istri mungkin merasa tidak didengar, kurang diperhatikan, kelelahan mengurus rumah tangga, atau kecewa karena hak-haknya belum terpenuhi. Ada pula yang dipengaruhi oleh tekanan pekerjaan, kondisi kesehatan, atau kesulitan mengelola emosi.
Karena itu, penting bagi suami untuk tidak langsung memberi label negatif kepada istrinya. Sebaliknya, keduanya perlu mencari akar masalah melalui komunikasi yang jujur dan penuh empati.
Apabila penyebab konflik berkaitan dengan hak dan kewajiban dalam rumah tangga, pasangan dapat memanfaatkan konsultasi fiqih Islam atau konsultasi hukum Islam agar memperoleh penjelasan sesuai syariat.
Islam Mengajarkan Mengendalikan Amarah
Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah kemampuan mengendalikan emosi. Rasulullah ﷺ tidak melarang seseorang merasakan marah, tetapi mengajarkan agar kemarahan tidak menguasai diri.
Beliau bersabda:
"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada fisik, melainkan kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Baik suami maupun istri dituntut untuk belajar menahan emosi agar tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau mengambil keputusan ketika sedang marah.
Dalam kehidupan rumah tangga, pengendalian emosi menjadi fondasi penting untuk menjaga keharmonisan. Banyak konflik dapat diselesaikan apabila kedua belah pihak memilih tenang sebelum berdiskusi.
Menjaga Lisan Ketika Marah
Allah SWT berfirman:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik..."
(QS. Al-Isra': 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ucapan memiliki dampak. Kata-kata yang keluar saat marah sering kali meninggalkan luka yang lebih lama dibandingkan penyebab pertengkaran itu sendiri.
Karena itu, ketika emosi mulai memuncak, Islam menganjurkan untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan. Sikap ini berlaku bagi suami maupun istri.
Rasulullah ﷺ Memberikan Teladan dalam Menghadapi Emosi Keluarga
Rumah tangga Rasulullah ﷺ juga tidak lepas dari dinamika. Beberapa riwayat menunjukkan bahwa istri-istri beliau pernah mengungkapkan kecemburuan atau perasaan yang kuat. Namun, Rasulullah ﷺ menghadapi keadaan tersebut dengan kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Beliau tidak membalas kemarahan dengan kemarahan. Sebaliknya, beliau berusaha memahami keadaan, memberikan nasihat dengan baik, dan menjaga kehormatan keluarganya.
Teladan ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dalam Islam bukan melalui saling menyalahkan, melainkan melalui akhlak yang mulia.
Cara Mengatasi Istri yang Sering Marah Menurut Islam
Langkah pertama adalah membangun komunikasi yang sehat. Suami hendaknya mendengarkan keluhan istri tanpa langsung memotong pembicaraan atau membela diri. Sering kali seseorang hanya ingin didengar sebelum mencari solusi.
Di sisi lain, istri juga dianjurkan menyampaikan perasaannya dengan cara yang santun dan tidak merendahkan suami. Islam mengajarkan agar nasihat disampaikan dengan hikmah dan perkataan yang baik.
Apabila komunikasi sudah dilakukan tetapi masalah belum juga terselesaikan, pasangan dapat memanfaatkan layanan chat ustadz online, tanya ustadz online, atau konsultasi ustadz via chat untuk memperoleh pandangan yang objektif berdasarkan syariat.
Pentingnya Muhasabah bagi Suami dan Istri
Ketika konflik terjadi, masing-masing hendaknya melakukan introspeksi diri. Jangan hanya berfokus pada kesalahan pasangan.
Suami dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah ia telah memenuhi hak istri, memberikan perhatian, dan menjadi pendengar yang baik? Sebaliknya, istri juga dapat mengevaluasi apakah kemarahannya masih berada dalam batas yang wajar atau justru menyakiti orang yang dicintainya.
Muhasabah merupakan salah satu jalan menuju perbaikan yang diajarkan Islam. Dengan saling memperbaiki diri, konflik yang semula terasa berat dapat berubah menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan suami istri. Download aplikasi Syariaid dan mulai konsultasi gratis dengan Ustadz


