Hukum Suami Menghina Istri dalam Islam: Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Penjelasan Lengkap
Umaya · 6 Agustus 2026 · 8 dilihat

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Suami dan istri memiliki karakter, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan, mencaci, atau menghina. Salah satu persoalan yang cukup serius adalah ketika suami menghina istri dalam Islam, baik dengan perkataan kasar, merendahkan fisik, membandingkan dengan perempuan lain, maupun membuka kekurangan istri di hadapan orang lain.
Lalu, bagaimana hukum suami menghina istri dalam Islam? Apakah perkataan kasar yang disampaikan ketika marah termasuk dosa? Bagaimana jika penghinaan sudah menjadi kebiasaan? Dan apa yang sebaiknya dilakukan istri ketika menghadapi kondisi tersebut?
Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak dalam rumah tangga. Pernikahan bukan hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga amanah yang harus dijaga dengan kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab.
Hukum Suami Menghina Istri dalam Islam
Pada dasarnya, menghina, mencela, merendahkan, atau mempermalukan orang lain merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam. Larangan tersebut semakin berat ketika dilakukan oleh suami kepada istrinya karena suami memiliki kewajiban memperlakukan istrinya dengan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.”
(QS. An-Nisa: 19)
Ayat tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam hubungan suami istri. Kata ma'ruf menunjukkan perlakuan yang baik, patut, dan sesuai dengan nilai-nilai yang dibenarkan syariat.
Karena itu, suami tidak dibenarkan menjadikan statusnya sebagai kepala keluarga sebagai alasan untuk menghina atau merendahkan istrinya. Kepemimpinan dalam rumah tangga adalah amanah yang disertai tanggung jawab, bukan izin untuk bertindak semena-mena.
Jika seseorang belum memahami batasan antara nasihat, teguran, dan penghinaan, persoalan tersebut dapat dibahas melalui konsultasi hukum Islam atau konsultasi fiqih Islam agar memperoleh penjelasan yang sesuai dengan dalil dan pemahaman ulama.
Dalil Al-Qur'an tentang Larangan Menghina Orang Lain
Allah SWT secara tegas melarang kaum Muslimin saling merendahkan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini memang berbicara secara umum, tetapi prinsipnya berlaku dalam seluruh hubungan manusia, termasuk hubungan suami dan istri.
Mengolok-olok pasangan, menyebutnya dengan panggilan yang merendahkan, menghina bentuk tubuhnya, mengejek keluarganya, atau mengungkit kekurangannya merupakan perilaku yang bertentangan dengan akhlak Islam.
Terlebih lagi, pasangan adalah orang yang seharusnya menjadi tempat mendapatkan ketenangan. Karena itu, rumah tangga seharusnya menjadi tempat untuk saling menguatkan, bukan tempat seseorang terus-menerus merasa direndahkan.
Islam Melarang Memanggil dengan Julukan yang Buruk
Dalam ayat yang sama, Allah SWT melanjutkan:
“Dan janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Larangan ini sangat relevan dengan kehidupan rumah tangga.
Misalnya, suami memanggil istrinya dengan sebutan yang merendahkan karena bentuk tubuh, pendidikan, pekerjaan, keluarga, masa lalu, atau kekurangannya. Walaupun terkadang dianggap sebagai candaan, jika perkataan tersebut menyakiti dan merendahkan martabat pasangan, maka seharusnya ditinggalkan.
Begitu pula sebaliknya, istri tidak boleh membalas penghinaan suami dengan penghinaan. Islam mengajarkan kedua pasangan untuk menjaga lisan dan kehormatan satu sama lain.
Menghina Istri Bukan Cara yang Benar untuk Mendidik
Ada kalanya suami beranggapan bahwa perkataan kasar diperlukan agar istrinya berubah. Padahal, menasihati berbeda dengan menghina.
Nasihat bertujuan memperbaiki kesalahan, sedangkan penghinaan cenderung menjatuhkan harga diri seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim seharusnya menjaga lisannya. Bahkan ketika menghadapi kesalahan orang lain, termasuk pasangan sendiri, cara menyampaikannya tetap harus memperhatikan akhlak.
Suami boleh memberikan nasihat kepada istri ketika terdapat kesalahan. Namun, nasihat tersebut hendaknya disampaikan dengan cara yang bijaksana, jelas, dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan untuk mempermalukan.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Suami Berbuat Baik kepada Istri
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan standar yang sangat jelas mengenai akhlak seorang suami.
Kebaikan seorang laki-laki tidak hanya dinilai dari bagaimana ia memperlakukan orang lain di luar rumah. Justru kehidupan bersama keluarga menjadi salah satu tempat terlihatnya akhlak seseorang yang sebenarnya.
Seorang suami mungkin terlihat sangat sopan kepada teman dan rekan kerja, tetapi jika ia sering menghina istrinya di rumah, maka ada persoalan akhlak yang perlu diperbaiki.
Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan dalam memperlakukan keluarga dengan kelembutan dan kasih sayang.
Apakah Menghina Istri Saat Marah Tetap Berdosa?
Marah merupakan bagian dari sifat manusia. Namun, marah tidak otomatis menjadi alasan seseorang bebas mengucapkan perkataan yang menyakiti orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan bagian dari kekuatan seorang Muslim.
Oleh karena itu, alasan “saya sedang marah” tidak serta-merta membenarkan penghinaan. Seorang suami tetap memiliki tanggung jawab atas perkataan yang keluar dari lisannya.
Jika emosi sedang tinggi, lebih baik menunda pembicaraan, mengambil jarak sementara untuk menenangkan diri, kemudian membicarakan masalah ketika suasana sudah lebih tenang.
Bentuk Penghinaan Suami yang Perlu Dihindari
Penghinaan dalam rumah tangga tidak selalu berbentuk kata makian. Bentuknya dapat sangat beragam.
Misalnya, suami mengatakan bahwa istrinya tidak berguna, bodoh, tidak cantik, tidak pandai mengurus rumah, atau selalu menjadi sumber masalah. Membandingkan istri dengan perempuan lain secara merendahkan juga dapat melukai perasaan.
Termasuk pula mempermalukan istri di depan anak, keluarga besar, teman, atau melalui media sosial.
Perkataan semacam ini dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan membuat komunikasi suami istri semakin buruk. Jika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat merusak keharmonisan keluarga.
Bagaimana Jika Suami Menghina Istri Berulang Kali?
Jika penghinaan hanya terjadi sesekali karena emosi dan suami menyadari kesalahannya, pasangan dapat berusaha memperbaiki pola komunikasi melalui dialog dan saling memaafkan.
Namun, jika penghinaan sudah menjadi kebiasaan, dilakukan berulang-ulang, atau disertai ancaman dan perilaku menyakiti lainnya, masalah tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Istri dapat menyampaikan bahwa perkataan tersebut menyakitkan dan meminta suami menghentikan perilaku tersebut. Pilih waktu ketika kondisi sudah tenang agar pembicaraan tidak berubah menjadi pertengkaran baru.
Apabila sulit menyelesaikannya berdua, pasangan dapat meminta bantuan orang yang dipercaya dan memiliki pemahaman agama. Konsultasi agama Islam online dapat menjadi salah satu sarana untuk memperoleh pandangan awal mengenai masalah tersebut.
Bolehkah Istri Membalas Penghinaan Suami?
Ketika seseorang dihina, muncul dorongan untuk membalas. Namun, membalas penghinaan dengan penghinaan bukanlah solusi yang baik.
Allah SWT berfirman:
“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)
Ayat tersebut menunjukkan keutamaan memaafkan. Namun, memaafkan tidak berarti seseorang harus terus menerima perlakuan buruk tanpa berusaha mencari jalan keluar.
Istri tetap boleh mencari bantuan, meminta nasihat, dan mengambil langkah untuk melindungi dirinya dari perlakuan yang merugikan. Yang perlu dihindari adalah membalas dengan tindakan zalim atau penghinaan yang sama.
Apa yang Harus Dilakukan Istri Ketika Dihina Suami?
Langkah pertama adalah berusaha menjaga ketenangan dan tidak membalas dalam keadaan emosi.
Setelah keadaan lebih tenang, istri dapat berbicara kepada suami mengenai dampak perkataan tersebut. Jelaskan secara spesifik perkataan atau perilaku yang dianggap menyakitkan dan sampaikan harapan agar komunikasi dilakukan dengan lebih baik.
Jika suami bersedia berubah, pasangan dapat membuat kesepakatan komunikasi, seperti tidak menggunakan kata-kata kasar, tidak mempermalukan pasangan di depan orang lain, dan tidak mengungkit kesalahan masa lalu ketika terjadi konflik.
Jika masalah terus berulang, pasangan dapat melakukan konsultasi suami istri atau konsultasi syariah online untuk memperoleh pandangan dari pihak yang memahami persoalan keluarga dan syariat.
Pentingnya Konsultasi dengan Ustadz
Persoalan rumah tangga terkadang memiliki sisi agama, psikologis, dan sosial yang saling berkaitan. Karena itu, keputusan sebaiknya tidak hanya berdasarkan potongan informasi dari media sosial.
Allah SWT berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Saat ini, masyarakat dapat menggunakan konsultasi ustadz online, chat ustadz online, atau tanya ustadz online untuk mendapatkan penjelasan mengenai persoalan rumah tangga.
Layanan konsultasi ustadz via chat juga dapat membantu seseorang menjelaskan masalah secara lebih privat. Bagi yang membutuhkan pembahasan lebih mendalam, konsultasi dengan ustadz online dapat menjadi sarana untuk mendapatkan nasihat yang lebih terarah.
Penggunaan aplikasi konsultasi ustadz juga memudahkan masyarakat mencari pendampingan agama tanpa harus selalu datang langsung ke tempat kajian.
Yang terpenting, pilih ustadz atau layanan yang memiliki pemahaman agama yang baik, menyampaikan dalil secara tepat, menjaga kerahasiaan, dan tidak terburu-buru memberikan vonis terhadap persoalan rumah tangga yang kompleks.
Kesimpulan
Hukum suami menghina istri dalam Islam pada dasarnya adalah perbuatan yang tercela dan dilarang apabila penghinaan tersebut berupa celaan, merendahkan martabat, perkataan keji, atau tindakan yang menyakiti tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Islam memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang ma'ruf.
Al-Qur'an melarang manusia saling mengolok-olok dan memanggil dengan gelar buruk. Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Karena itu, konflik rumah tangga seharusnya diselesaikan dengan komunikasi, nasihat yang baik, kesabaran, dan musyawarah. Jika masalah tidak dapat diselesaikan sendiri, pasangan dapat mencari pendampingan melalui konsultasi Islam online, konsultasi hukum Islam, atau konsultasi fiqih Islam.
Menghentikan kebiasaan menghina bukan hanya penting untuk menjaga perasaan istri, tetapi juga merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Download aplikasi SYARIAID disini
FAQ: Hukum Suami Menghina Istri dalam Islam
1. Apakah suami boleh menghina istri menurut Islam?
Tidak. Suami tidak dibenarkan menghina, mencela, merendahkan, atau mempermalukan istrinya. Islam memerintahkan suami memperlakukan istri dengan cara yang baik sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 19.
2. Apakah suami yang menghina istri berdosa?
Jika penghinaan tersebut berupa perkataan tercela, celaan, makian, merendahkan martabat, atau menyakiti pasangan tanpa alasan yang dibenarkan, maka perbuatan tersebut merupakan dosa yang harus ditinggalkan dan diikuti dengan taubat serta perbaikan perilaku.
3. Bagaimana hukum suami menghina istri ketika sedang marah?
Marah tidak menjadi alasan untuk bebas mengucapkan perkataan buruk. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan umatnya untuk mengendalikan diri ketika marah. Suami sebaiknya menenangkan diri sebelum berbicara agar tidak mengucapkan sesuatu yang menyakiti istrinya.
4. Apa yang harus dilakukan istri jika sering dihina suami?
Istri dapat menyampaikan keberatannya ketika suasana sudah tenang, meminta suami memperbaiki cara berkomunikasi, dan mengajak menyelesaikan masalah dengan baik. Jika penghinaan terus berulang, konsultasi ustadz online atau konsultasi suami istri dapat menjadi langkah untuk mendapatkan arahan sesuai syariat.
5. Apakah istri boleh membalas hinaan suami?
Membalas penghinaan dengan penghinaan sebaiknya dihindari. Islam mengajarkan pengendalian diri dan mendorong sikap memaafkan. Namun, memaafkan tidak berarti membiarkan perilaku buruk terus berlangsung. Istri tetap dapat mencari bantuan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.
6. Kapan perlu melakukan konsultasi agama Islam online?
Konsultasi agama Islam online dapat dilakukan ketika masalah rumah tangga mulai sulit diselesaikan sendiri, terutama jika berkaitan dengan hak dan kewajiban suami istri, perilaku yang terus berulang, atau persoalan hukum keluarga. Layanan chat ustadz online, tanya ustadz online, dan konsultasi ustadz via chat dapat menjadi pilihan yang praktis.
7. Bagaimana memilih layanan konsultasi ustadz yang tepat?
Pilih layanan yang menghadirkan ustadz yang kompeten, memiliki pemahaman fiqih keluarga, menggunakan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan, menjaga privasi pengguna, dan tidak memberikan keputusan secara terburu-buru. Konsultasi syariah online, konsultasi hukum Islam, dan konsultasi fiqih Islam sebaiknya dilakukan dengan pihak yang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.


