Tata Cara Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan
Hosen · 31 Agustus 2026 · 4 dilihat

Kelahiran anak merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada sebuah keluarga. Dalam Islam, orang tua dianjurkan mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran anak melalui berbagai amalan, salah satunya adalah aqiqah. Namun, masih banyak orang tua yang bertanya mengenai tata cara aqiqah, jumlah kambing, waktu pelaksanaan, hingga perbedaan antara aqiqah anak laki-laki dan perempuan.
Lalu, bagaimana sebenarnya aqiqah anak menurut Islam? Apakah terdapat perbedaan tata cara antara anak laki-laki dan perempuan? Berapa kambing yang harus disiapkan? Artikel ini membahas aqiqah dalam Islam secara lengkap berdasarkan dalil Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW.
Apa Itu Aqiqah Anak?
Aqiqah adalah ibadah berupa penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Dalam praktiknya, aqiqah juga berkaitan dengan beberapa amalan lain seperti pemberian nama dan mencukur rambut bayi.
Aqiqah bayi bukan sekadar acara syukuran atau tradisi keluarga. Aqiqah merupakan amalan yang memiliki dasar dari sunnah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah.
Hadits ini menjadi salah satu dalil utama mengenai aqiqah menurut Islam. Di dalamnya terdapat penyebutan mengenai penyembelihan hewan, pencukuran rambut, dan pemberian nama yang dilakukan berkaitan dengan kelahiran anak.
Hukum Aqiqah dalam Islam
Secara umum, aqiqah dalam Islam hukumnya adalah sunnah muakkadah bagi orang tua yang memiliki kemampuan.
Artinya, aqiqah sangat dianjurkan tetapi bukan kewajiban mutlak yang harus dilakukan dalam semua kondisi. Orang tua yang memiliki kemampuan dianjurkan untuk melaksanakannya sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa di antara kalian ingin menyembelih untuk anaknya, maka hendaknya ia menyembelih.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i.
Penggunaan kata “ingin” dalam hadits tersebut menjadi salah satu dasar bahwa aqiqah bukan kewajiban mutlak. Karena itu, orang tua yang belum mampu tidak perlu memaksakan diri sampai mengalami kesulitan finansial.
Dalam aqiqah menurut Islam, kemampuan menjadi pertimbangan penting. Ibadah sunnah seharusnya tidak membuat keluarga mengabaikan kebutuhan pokok.
Aqiqah Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan
Perbedaan yang paling sering ditanyakan adalah jumlah hewan untuk aqiqah anak laki-laki dan aqiqah anak perempuan.
Dalam hadits dari Ummu Kurz Al-Ka'biyyah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing.
Hadits tersebut menjadi dasar utama mengenai jumlah hewan aqiqah.
Dengan demikian, bentuk yang lebih utama untuk aqiqah anak laki-laki adalah dua ekor kambing. Sementara itu, aqiqah anak perempuan dilakukan dengan satu ekor kambing.
Perbedaan jumlah tersebut merupakan ketentuan yang bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Orang tua tidak perlu merasa bahwa perbedaan tersebut harus dijelaskan berdasarkan pertimbangan sosial atau budaya tertentu, karena dasar utamanya adalah hadits Nabi.
Namun, dalam pembahasan fikih terdapat pendapat bahwa satu ekor kambing untuk anak laki-laki sudah memenuhi pokok kesunnahan aqiqah, sedangkan dua ekor merupakan bentuk yang lebih sempurna.
Kapan Aqiqah Bayi Dilaksanakan?
Waktu yang paling utama untuk aqiqah bayi adalah hari ketujuh setelah kelahiran.
Rasulullah SAW bersabda:
“Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
Hadits ini menunjukkan bahwa hari ketujuh memiliki keutamaan khusus dalam pelaksanaan aqiqah.
Namun, apabila orang tua belum mampu melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai waktu berikutnya. Sebagian ulama membahas pelaksanaan pada hari ke-14 atau ke-21, sementara sebagian lainnya memberikan ruang untuk melaksanakan aqiqah setelah itu.
Karena itu, orang tua tidak perlu merasa bahwa aqiqah menjadi tidak berarti hanya karena tidak dapat dilakukan tepat pada hari ketujuh. Jika terdapat keterbatasan kemampuan, pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga dan pendapat fikih yang diikuti.
Tata Cara Aqiqah Anak Laki-Laki dan Perempuan
Lalu bagaimana tata cara aqiqah yang benar?
Pada prinsipnya, tata cara aqiqah anak laki-laki dan perempuan memiliki rangkaian yang sama. Perbedaan utamanya adalah jumlah hewan yang disembelih.
1. Menentukan niat dan mempersiapkan aqiqah
Orang tua terlebih dahulu menentukan bahwa penyembelihan dilakukan sebagai aqiqah untuk anak yang baru lahir.
Persiapan meliputi pemilihan hewan, penentuan waktu, serta persiapan pengolahan dan pembagian daging.
Aqiqah merupakan ibadah sehingga niatnya harus ditujukan kepada Allah SWT, bukan semata-mata untuk mengadakan pesta atau mendapatkan pengakuan sosial.
2. Memilih hewan aqiqah
Hewan yang digunakan untuk aqiqah umumnya berupa kambing atau domba.
Hewan harus sehat dan layak untuk disembelih. Orang tua sebaiknya memperhatikan kondisi hewan dan memastikan tidak memiliki cacat yang menyebabkan tidak layak sebagai hewan sembelihan.
Untuk aqiqah anak laki-laki, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih utama berdasarkan hadits. Sedangkan untuk anak perempuan, satu ekor kambing.
3. Melaksanakan penyembelihan
Penyembelihan merupakan inti dari pelaksanaan aqiqah.
Hewan disembelih dengan tata cara yang sesuai syariat dan menyebut nama Allah SWT. Proses penyembelihan harus dilakukan dengan memperhatikan ketentuan penyembelihan hewan dalam Islam.
Jika keluarga menggunakan jasa aqiqah, pastikan penyedia layanan memiliki proses penyembelihan yang sesuai syariat.
4. Mencukur rambut bayi
Dalam hadits tentang aqiqah disebutkan bahwa rambut anak dicukur pada hari ketujuh.
Mencukur rambut merupakan salah satu rangkaian amalan yang berkaitan dengan kelahiran dan aqiqah.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW memerintahkan Fatimah RA untuk mencukur rambut Hasan dan bersedekah dengan perak seberat rambut tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa rangkaian aqiqah memiliki dimensi ibadah dan kepedulian sosial, bukan sekadar kegiatan penyembelihan.
5. Memberikan nama yang baik
Memberikan nama yang baik juga menjadi bagian penting dalam rangkaian kelahiran anak.
Nama merupakan identitas anak sekaligus doa dan harapan orang tua. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya memilih nama yang memiliki makna baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dalam hadits tentang aqiqah, penyembelihan, pencukuran rambut, dan pemberian nama disebutkan dalam satu rangkaian.
6. Mengolah dan membagikan daging
Setelah hewan disembelih, daging aqiqah dapat diolah kemudian dibagikan.
Dalam praktik masyarakat Muslim, daging aqiqah umumnya dimasak terlebih dahulu kemudian diberikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat yang membutuhkan.
Tujuan pembagian tersebut bukan hanya memberikan makanan, tetapi juga menjadi sarana berbagi kebahagiaan atas kelahiran seorang anak.
Aqiqah Sesuai Sunnah: Haruskah Daging Dibagikan Mentah?
Salah satu pertanyaan dalam aqiqah sesuai sunnah adalah apakah daging harus dibagikan mentah atau dimasak terlebih dahulu.
Dalam praktik yang umum dilakukan, daging aqiqah dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan. Hal ini juga memiliki nilai sosial karena penerima dapat langsung menikmati makanan tersebut.
Tidak ada ketentuan bahwa seluruh daging harus dibagikan kepada orang miskin saja. Keluarga dan kerabat juga dapat menerima bagian dari daging aqiqah.
Yang penting, pembagian dilakukan sebagai bentuk berbagi dan tidak menjadikan acara aqiqah sebagai ajang berlebihan atau pemborosan.
Acara Aqiqah: Apakah Harus Mengadakan Pesta?
Acara aqiqah sering kali dilaksanakan dalam bentuk pengajian atau jamuan makan yang dihadiri keluarga dan tetangga.
Pada dasarnya, inti aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai ibadah. Acara tambahan seperti pengajian, doa bersama, atau makan bersama dapat dilakukan sebagai kegiatan sosial selama tidak diyakini sebagai bagian wajib dari aqiqah dan tidak bertentangan dengan syariat.
Dengan kata lain, aqiqah tidak harus selalu dilakukan dengan pesta besar.
Keluarga dengan kemampuan terbatas tetap dapat melaksanakan aqiqah secara sederhana. Misalnya, hewan disembelih sesuai ketentuan, kemudian daging dimasak dan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kesederhanaan tidak mengurangi nilai ibadah selama dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan.
Dalil Al-Qur'an tentang Aqiqah
Apakah aqiqah disebutkan secara khusus dalam Al-Qur'an?
Tidak terdapat ayat Al-Qur'an yang secara spesifik menjelaskan jumlah kambing atau tata cara aqiqah. Dalil khusus mengenai aqiqah berasal dari hadits Rasulullah SAW.
Namun, prinsip bersyukur atas nikmat Allah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Kelahiran anak merupakan nikmat dan amanah yang besar. Aqiqah menjadi salah satu bentuk syukur yang pelaksanaannya dijelaskan melalui sunnah Rasulullah SAW.
Karena itu, ketika menjelaskan dalil aqiqah, penting untuk tidak mengatakan bahwa QS. Ibrahim ayat 7 merupakan perintah khusus untuk melakukan aqiqah. Ayat tersebut menjelaskan prinsip umum tentang syukur, sedangkan dalil khusus aqiqah berasal dari hadits.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Aqiqah
Agar pelaksanaan aqiqah berjalan sesuai syariat, orang tua sebaiknya memperhatikan beberapa hal penting.
Pertama, aqiqah dilakukan karena Allah SWT sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak.
Kedua, hewan yang digunakan harus sehat dan layak disembelih.
Ketiga, penyembelihan dilakukan sesuai syariat.
Keempat, jumlah hewan disesuaikan dengan tuntunan yang terdapat dalam hadits.
Kelima, orang tua tidak perlu memaksakan diri apabila belum mampu.
Keenam, kegiatan tambahan seperti pengajian atau pesta tidak boleh menghilangkan tujuan utama aqiqah sebagai ibadah dan rasa syukur.
Dengan memperhatikan hal tersebut, orang tua dapat menjalankan aqiqah sesuai sunnah secara lebih tenang.
Kesimpulan
Aqiqah anak merupakan ibadah yang disunnahkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran anak. Aqiqah memiliki dasar yang kuat dari hadits Rasulullah SAW dan termasuk sunnah muakkadah bagi orang tua yang mampu.
Untuk aqiqah anak laki-laki, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih utama berdasarkan hadits, sedangkan aqiqah anak perempuan dilakukan dengan satu ekor kambing.
Waktu yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran. Dalam pelaksanaannya, orang tua perlu memperhatikan pemilihan hewan, penyembelihan sesuai syariat, mencukur rambut bayi, memberikan nama yang baik, serta membagikan daging kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan orang yang membutuhkan.
Pada akhirnya, tata cara aqiqah bukan hanya tentang jumlah kambing atau acara yang diselenggarakan. Aqiqah adalah bentuk syukur, ibadah, dan sarana berbagi kebahagiaan atas hadirnya seorang anak dalam keluarga.
FAQ Aqiqah Anak
1. Berapa kambing untuk aqiqah anak laki-laki?
Untuk aqiqah anak laki-laki, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih utama berdasarkan hadits Rasulullah SAW. Terdapat pula pendapat ulama bahwa satu ekor sudah memenuhi pokok kesunnahan aqiqah.
2. Berapa kambing untuk aqiqah anak perempuan?
Aqiqah anak perempuan dilakukan dengan satu ekor kambing berdasarkan hadits Ummu Kurz RA.
3. Kapan aqiqah bayi dilakukan?
Waktu yang paling utama untuk aqiqah bayi adalah hari ketujuh setelah kelahiran. Jika belum mampu, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai waktu pelaksanaan setelah hari ketujuh.
4. Apakah aqiqah wajib dalam Islam?
Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah bagi orang tua yang mampu, bukan kewajiban mutlak. Orang tua yang belum mampu tidak perlu memaksakan diri.
5. Apa saja tata cara aqiqah sesuai sunnah?
Secara umum, tata cara aqiqah sesuai sunnah meliputi penyembelihan hewan, mencukur rambut bayi, memberikan nama yang baik, serta membagikan daging aqiqah.
6. Apakah acara aqiqah harus diadakan besar-besaran?
Tidak. Inti aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk ibadah. Acara tambahan seperti pengajian atau jamuan makan dapat dilakukan secara sederhana sesuai kemampuan keluarga.
7. Apakah daging aqiqah harus dibagikan?
Daging aqiqah dianjurkan untuk dibagikan sebagai bentuk berbagi kebahagiaan. Daging dapat diberikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, maupun orang yang membutuhkan.


